Feeds:
Pos
Komentar

Salah satu tujuan Audit Teknologi adalah untuk perbaikan (improvement) dan bukan untuk melihat salah benar. Salah satu alat untuk menilai adalah dengan benchmark usaha sejenis atau state of the art dari usaha sejenis baik lokal ataupun dunia. Benchmark dapat merujuk pada standar teknik atau standar industri atau standar nasional atau dari standar yang menjadi acuan.. Kalau ada gap maka sejauh mana gap tsb dapat dikelola untuk peningkatan kapabilitas teknologi.. Penilaian lain adalah melalui tools2 yang disediakan pada keilmuan TQM, seperti SPC, Process Capability measurement, Failure Mode effect & analyses dan proses pengukuran yang lain seperti balance score card, TPm dll.

Seharusnya AT menjadi kebutuhan bagi entity mengingat tujuannya adalah untuk improvement.. Ada BUMN yang dengaN AUDIT Teknologi, kredibilitasnya meningkat..tingkat kepercayaan pemegang saham terhadap kemampuan aset teknologi terukur dan dapat dipertanggung jawabkan statusnya.

Salah satu penugasan negara terhadap BPPT adalah memberi rekomendasi audit teknologi yang tertuang dalam Perpres…

Kedepan Audit teknologi didorong untuk bersifat voluntary yaitu atas dasar kesdaran untuk peningkatan performance.

To be continued….

 

Iklan

Beberapa obyek yang pernah saya dan Tim melakukan audit :

1. Produk Sinyal PT Len tahun 2001

2. Pabrik gula Tjukir PTPN 12 tahun 2003

3. PT Texmaco tahun 2003/4

4. PT PAL tahun 2003

5. Pabrik GulaPagottan PTPN XI tahun 2004

6. Pabrik Gula Madukismo tahun 2004

7. Audit Sistem Angkutan umum masal 5 kota besar Indonesia taun 2005

8. PT DKB tahun 2006

9. Pabrik CPO mini 5 ton tahiun 2006

10. PT Inka tahun 2007

11. PT Barata Indonesia tahun 2007 (kemampuan desain)

Keluaran dari audit tek adalah Rekomendasi dan tindak lanjut..

Secara umum penerapan manajemen teknologi di Industri berbasis manufaktur masih lemah.  Upaya-upaya alih teknologi yang terprogram hanya dilakukan oleh beberapa perusahaan. Wal hasil, kuranya inovasi yang dilakukan,,, yang ada hanya untuk memprtahankan kelangsungan hidup perusahaan.. Dilihat dari siklus produk banyak yang sudah mature dan dalam proses decline. Indikatornya semakin turun produktivitas, kalah bersaing dengan pesaing (biasanya minta tambahan bea masuk). Tapi disisi lain adanya ketidak adilan dalam penerapan Free trade zone. Indutri kapal nasional akan sulut bersaing dengan Galangan di Batam, mengingat Batam bebas bea masuk dan suplai material sangat cepat dari Singapura. Hampir seluruh owner galangan di Batam adalah Singapura.. Dengan penerapan ERP perusahaan di Singapura dengan cepat dapat melakukan order secara JIT ke seluruh pelosok Dunia. Dan material langsung masuk ke areal galangan kapal tanpa melalui pelabuhan seperti di Inonesia harus ke pelabuhan tertentu dahulu. Selain itu bea masuk yang diterapkan pada galangan non Batam menyebabkan margin keuntungan yang hanya 10 – 15% terpangkas. Proyect Mangement menjadi sangat critikal, bila gagal maka kerugian pasti akan terjadi pada bisnis usaha pembangunan kapal baru. 

Pada Pabrik gula yang sebagian besar peninggalan Belanda, ada peluang untuk peningkatan kinerja dengan melakukan otomatisasi dan penggantian beberapa proses. Namun otomatisasi dikuatirkan oleh pekerja akan menjadi pesaing. Penggantian beberapa proses misal pemurnian dengan sistem membran akan memangkas biaya produksi. Namun biasanya terkendala investasi, sebtulnya tinggal hitung pakai EKOTEK (ROI positif atau negatif).. Losses cukup tinggi, pengelolaan kebun yang kurang efektif artinya ada tanaman yang sampai 10 kali padahal SOP nya 3 kali ganti..

Kalau PG di Lampung biasanya improvement dengan mengundang ekternal auditor… wal hasil selain modal dan sistem lahan yang beda, rendemen bisa mencai 10% dibanding di Jawa 7% sudah sangat berat mencapainya. Peningkatan kapasitas dengan menambah unit penggilingan dari 3 rol menjadi 4 rol, namun terjadi peningkatan luar biasa dalam kapasitas 40 – 50%..

Secara umum TQM belum diterapkan secara total,,,biaya2 yang timbul untuk pengelolaan kualitas seharusnya dihitung secara akurat menyangkut, prevention cost, appraisal cost, internal failure cost dan eksternal failure cost… Kalau sudahdibawah 3% sales sudah bagus… DPMO (defect per million obyect) harus dibawah 2% (six sigma), penerapan FMEA secara kontiyu yang mungkin cukup melelahkan namun akan dapat mengurangi kesalah dalam proses.

Ok to be continue

 

 

 

 

Pada tahun 2006 – 2007 , kantor BUMN telah melakukan penyusunan pedoman audit teknologi terhadap beberapa BUMN yang masuk pada sektor galangan kapal, kelapa sawit, baja, gula, pertamina kilang dan PLN. BUMN yang begitu besar jumlahnya mencapai 160 BUMN, merupakan peluang pasar yang besar. Aset2 teknologi BUMN tsb banyak yang dalam kondisi baik dan kurang baik. Suatu penerpana managemen teknologi yang baik, evaluasi aset akan dilakukan secara berkala, apakah nilai ROA sudah setara dengan nilai investasi aset yang telah ditanamkan. Apakah kondisi aset nyata dan aset maya terkendali dengan baik. Berbicara industri kelapa sawit, saat ini berkembang teknologi sterilizer vertikal yang mana lebih efisien dari tipe horisontal. Pada tipe horizontal biasanya diterapkan phase tekanan 3 kali (triple) sehingga secara penggunaan energi cukup besar. Disamping itu istilah enrgi uap yang digunakan merebus TBS, digunakan merebus besi. Disamping itu handling setelah keluar dari ruang sterilizer, diperlukan crane pengangkut wagon. Bisa dibayangkan 1 rebusan sekitar 10 – 20 wagon. Dengan tipe vertikal, pengeluaran hasil rebusan secara gravitasi menggunakan Tipler dan menghasilkan oil losses yang lebih rendah dari tipe horisontal. Bisa dibayangkan produktivitas yang dapat ditingkatkan pada industri kelapa sawit yang saat ini ada sejumlah 300 an pabrik ( unit). Sayangnya belum ada industri dalam negeri yang memiliki kapabilitas untuk mengembangkan sektor yang lain. Justru teknologi kelapa sawit ini dikuasai oleh negeri tetangga malaysia.

Bicara galangan kapal kita, ada sebanyak lebih dari 200 an galangan di Indonesia tersebar dari Sabang sampai ke Merauke. Kalau dibagi atas zone Batam, Jawa dan Luar Jawa. Galangan terbesar kita (BUMN) saat ini adalah PT PAL Indonesia, mampu membuat kapal hingga 50.000 DWT. Sebagai galangan modern PT Pal Indonesia memiliki fasilitas yang modern baik HW atau SW. Orientasi utilitas aset adalah untuk kapal2 kelas Handy Size atau s/d 50.000 DWT. Fokus untuk pembangunan kapal2 baru. Kemampuan baik enjinering dan manufakturing diatas galangan Indonesia lainnya. Selain itu ada sebuah galangan besar yang pernah jaya pada kurun tahun 1990 kebawah Dok Perkapalan Koja Bahari Jakarta dan Dok perkapalan Surabaya. Ketignya merupakan BUMN dan 1 lagi Industri kapal Indonesia di Makasar. Kemampuan 4 BUMN ini sangat kuat bila terjadi sinergi positif. Masing2 memiliki keunikan aset teknologi dan mampu membuat kapal dari 6.000 s/d 30.000 DWT. Disamping itu usaha lain adalah Repair dan maintenance. Namun republik ini memang agak aneh, data transportasi laut untuk barang impor menunjukan kapal asing yang beroperasi di Indonesia jauh lebih banyak. Sedangkan untuk ekspor, kapal kita hanya menangani 60 an % muatan. Dengan besarnya nilai transportasi laut (trilyunan), sesungguhnya peluang untuk produksi kapal baru sangat besar. Sebagai gambaran PT PAL banyak menangi order dari luar negeri. Sedangkan DKB dibandingkan dengan kapasitasnya, belum banyak kapal luar negeri datang untuk docking,,, Ada apa dengan galangan kita?? Kita mendengar dibentuk Klaster Industri kapal Surabaya… semoga julukan Indonesia negara maritim dibarengi juga dengan Indonesia Pusat Industri Kapal dunia pada kelas <50.000 DWT…..(kapan ya???)

to be continue

Sesungguhnya tulisan ini saya kutip dari suatu kegiatan rencana aplikasi ERP pada suatu BUMN transportasi. Penerapan ERP pada perusahaan yang masih ketinggalan dalam penerapan teknologi IT dan sistem informasi, memepunyai jalan yang sangat panjang. Teman2 yang sebagian telah berijazah CISA melakukan pemetaan sistem dari perusahaan yang ada tsb melalui aktivitas audit teknologi informasi (audit IT). Rencana panjang mungkin 1 – 3 tahun, perusahaan harus menset up IT roadmap, IT Blueprint, IT Governance. Sangat panjang waktu yang diperlukan. Kondisi ideal lainnya mencakup, komitmen manajemen, perubahan budaya kerja, all out (penugasan personil khusus) dan alokasi biaya yang cukup besar serta database. Ada beberapa pertanyaan mendasar, dengan ERP akankah perusahaan menjadi meningkat performancenya, apakah akan ada perubahan signifikan setelah suntikan ERP?? Kendala terbesar adalah penyusunan database disetiap lini terkait dengan ERP. Dari mappping awal, database memiliki banyak kekurangan yang harus disempurnakan dan disusun kembali.

to be continue

Sesuai dengan lazimnya sebuah audit,, maka audit teknologi memiliki standar tatalaksana atau tahapan yang harus dilalui dari saat inisiasi sampai dengan pembuatan rekomendasi pada auditee.

Tahapan audit teknologi Sbb :

Tahap Persiapan (Pre Audit)

– Penetapan obyek dan lingkup audit

– Kesepakatan audit dengan auditee

– Penyusunan kriteria audit

– Penyusunan Audit Plan

– Pembentukan Tim audit

– Metoda pengumpulan sumber bukti

Tahap Pelaksanaan Audit (Onsite audit)

– Pengumpulan data sekunder dan primer

– Wawancara

– Observasi lapangan

– Pengukuran

– Analisa sumber bukti

Tahap Pelaporan (Post Audit)

– Analisa sumber bukti

– Temuan

– Penyusunan Rekomendasi

– Klarifikasi Temuan dan Rekomendasi pada auditee

– Rencana tindak

– Pelaporan

Secara umum itu adalah tahapan yang dilakukan pada suatu aktivitas audit teknologi. Waktu yng diperlukan untuk seluruh aktivitas tsb adalah 3 bulan atau tergantung dari size organisasi yang diaudit.Sifat audit Teknologi dibagi atas beberapa terminologi :

– Mandatory, biasanya merupakan penigasan dari top manajemen atau negara

– Voluntary, inisiatif datang dari organisasi (auditee)..

Kedua sifat audit itu sudah dilaksanakan oleh kami,, namun yang cukup sulit adalah menyadarkan organisasi akan pentingnya audit teknolog. Karena audit seolah adalah salah benar,, tapi sesungguhnya kata kunci yang benar adalah “improvement” artinya peningkatan dari keluaran aset teknologi setelah dilakukan audit.

will be continue ……..

 

 

 

 

 

Mulai jadi auditor Teknologi sejak 2001, waktu itu ada penugasan untuk audit teknologi salah satu produk dari PT Len Industri di Bandung… learning by doing.. itu motto untuk proses pembelajaran mengingat literatur sangat terbatas… Ada beberapa acuan untuk dijadikan model audit teknologi pada waktu itu, Tarekh Khalil, Atlas Technology, Dr.Vassilis …. Ya ceritanya sangat panjang sampai dengan tahun 2008 ini .. sudah banyak sektor yang diaudit… Pabrik gula, galangan kapal, Pabrik CPO, Transportasi masal, PT Inka dan banyak lagi…

will be continue soon….

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!