Pada tahun 2006 – 2007 , kantor BUMN telah melakukan penyusunan pedoman audit teknologi terhadap beberapa BUMN yang masuk pada sektor galangan kapal, kelapa sawit, baja, gula, pertamina kilang dan PLN. BUMN yang begitu besar jumlahnya mencapai 160 BUMN, merupakan peluang pasar yang besar. Aset2 teknologi BUMN tsb banyak yang dalam kondisi baik dan kurang baik. Suatu penerpana managemen teknologi yang baik, evaluasi aset akan dilakukan secara berkala, apakah nilai ROA sudah setara dengan nilai investasi aset yang telah ditanamkan. Apakah kondisi aset nyata dan aset maya terkendali dengan baik. Berbicara industri kelapa sawit, saat ini berkembang teknologi sterilizer vertikal yang mana lebih efisien dari tipe horisontal. Pada tipe horizontal biasanya diterapkan phase tekanan 3 kali (triple) sehingga secara penggunaan energi cukup besar. Disamping itu istilah enrgi uap yang digunakan merebus TBS, digunakan merebus besi. Disamping itu handling setelah keluar dari ruang sterilizer, diperlukan crane pengangkut wagon. Bisa dibayangkan 1 rebusan sekitar 10 – 20 wagon. Dengan tipe vertikal, pengeluaran hasil rebusan secara gravitasi menggunakan Tipler dan menghasilkan oil losses yang lebih rendah dari tipe horisontal. Bisa dibayangkan produktivitas yang dapat ditingkatkan pada industri kelapa sawit yang saat ini ada sejumlah 300 an pabrik ( unit). Sayangnya belum ada industri dalam negeri yang memiliki kapabilitas untuk mengembangkan sektor yang lain. Justru teknologi kelapa sawit ini dikuasai oleh negeri tetangga malaysia.
Bicara galangan kapal kita, ada sebanyak lebih dari 200 an galangan di Indonesia tersebar dari Sabang sampai ke Merauke. Kalau dibagi atas zone Batam, Jawa dan Luar Jawa. Galangan terbesar kita (BUMN) saat ini adalah PT PAL Indonesia, mampu membuat kapal hingga 50.000 DWT. Sebagai galangan modern PT Pal Indonesia memiliki fasilitas yang modern baik HW atau SW. Orientasi utilitas aset adalah untuk kapal2 kelas Handy Size atau s/d 50.000 DWT. Fokus untuk pembangunan kapal2 baru. Kemampuan baik enjinering dan manufakturing diatas galangan Indonesia lainnya. Selain itu ada sebuah galangan besar yang pernah jaya pada kurun tahun 1990 kebawah Dok Perkapalan Koja Bahari Jakarta dan Dok perkapalan Surabaya. Ketignya merupakan BUMN dan 1 lagi Industri kapal Indonesia di Makasar. Kemampuan 4 BUMN ini sangat kuat bila terjadi sinergi positif. Masing2 memiliki keunikan aset teknologi dan mampu membuat kapal dari 6.000 s/d 30.000 DWT. Disamping itu usaha lain adalah Repair dan maintenance. Namun republik ini memang agak aneh, data transportasi laut untuk barang impor menunjukan kapal asing yang beroperasi di Indonesia jauh lebih banyak. Sedangkan untuk ekspor, kapal kita hanya menangani 60 an % muatan. Dengan besarnya nilai transportasi laut (trilyunan), sesungguhnya peluang untuk produksi kapal baru sangat besar. Sebagai gambaran PT PAL banyak menangi order dari luar negeri. Sedangkan DKB dibandingkan dengan kapasitasnya, belum banyak kapal luar negeri datang untuk docking,,, Ada apa dengan galangan kita?? Kita mendengar dibentuk Klaster Industri kapal Surabaya… semoga julukan Indonesia negara maritim dibarengi juga dengan Indonesia Pusat Industri Kapal dunia pada kelas <50.000 DWT…..(kapan ya???)
to be continue