Beberapa obyek yang pernah saya dan Tim melakukan audit :
1. Produk Sinyal PT Len tahun 2001
2. Pabrik gula Tjukir PTPN 12 tahun 2003
3. PT Texmaco tahun 2003/4
4. PT PAL tahun 2003
5. Pabrik GulaPagottan PTPN XI tahun 2004
6. Pabrik Gula Madukismo tahun 2004
7. Audit Sistem Angkutan umum masal 5 kota besar Indonesia taun 2005
8. PT DKB tahun 2006
9. Pabrik CPO mini 5 ton tahiun 2006
10. PT Inka tahun 2007
11. PT Barata Indonesia tahun 2007 (kemampuan desain)
Keluaran dari audit tek adalah Rekomendasi dan tindak lanjut..
Secara umum penerapan manajemen teknologi di Industri berbasis manufaktur masih lemah. Upaya-upaya alih teknologi yang terprogram hanya dilakukan oleh beberapa perusahaan. Wal hasil, kuranya inovasi yang dilakukan,,, yang ada hanya untuk memprtahankan kelangsungan hidup perusahaan.. Dilihat dari siklus produk banyak yang sudah mature dan dalam proses decline. Indikatornya semakin turun produktivitas, kalah bersaing dengan pesaing (biasanya minta tambahan bea masuk). Tapi disisi lain adanya ketidak adilan dalam penerapan Free trade zone. Indutri kapal nasional akan sulut bersaing dengan Galangan di Batam, mengingat Batam bebas bea masuk dan suplai material sangat cepat dari Singapura. Hampir seluruh owner galangan di Batam adalah Singapura.. Dengan penerapan ERP perusahaan di Singapura dengan cepat dapat melakukan order secara JIT ke seluruh pelosok Dunia. Dan material langsung masuk ke areal galangan kapal tanpa melalui pelabuhan seperti di Inonesia harus ke pelabuhan tertentu dahulu. Selain itu bea masuk yang diterapkan pada galangan non Batam menyebabkan margin keuntungan yang hanya 10 - 15% terpangkas. Proyect Mangement menjadi sangat critikal, bila gagal maka kerugian pasti akan terjadi pada bisnis usaha pembangunan kapal baru.
Pada Pabrik gula yang sebagian besar peninggalan Belanda, ada peluang untuk peningkatan kinerja dengan melakukan otomatisasi dan penggantian beberapa proses. Namun otomatisasi dikuatirkan oleh pekerja akan menjadi pesaing. Penggantian beberapa proses misal pemurnian dengan sistem membran akan memangkas biaya produksi. Namun biasanya terkendala investasi, sebtulnya tinggal hitung pakai EKOTEK (ROI positif atau negatif).. Losses cukup tinggi, pengelolaan kebun yang kurang efektif artinya ada tanaman yang sampai 10 kali padahal SOP nya 3 kali ganti..
Kalau PG di Lampung biasanya improvement dengan mengundang ekternal auditor… wal hasil selain modal dan sistem lahan yang beda, rendemen bisa mencai 10% dibanding di Jawa 7% sudah sangat berat mencapainya. Peningkatan kapasitas dengan menambah unit penggilingan dari 3 rol menjadi 4 rol, namun terjadi peningkatan luar biasa dalam kapasitas 40 - 50%..
Secara umum TQM belum diterapkan secara total,,,biaya2 yang timbul untuk pengelolaan kualitas seharusnya dihitung secara akurat menyangkut, prevention cost, appraisal cost, internal failure cost dan eksternal failure cost… Kalau sudahdibawah 3% sales sudah bagus… DPMO (defect per million obyect) harus dibawah 2% (six sigma), penerapan FMEA secara kontiyu yang mungkin cukup melelahkan namun akan dapat mengurangi kesalah dalam proses.
Ok to be continue